Senin, 16 November 2009

Sang Gerbang Ilmu Pengetahuan

Pada suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menyatakan bahwa dirinya diibaratkan sebagai kota ilmu, sementara Ali bin Abi Thalib adalah gerbangnya ilmu. Mendengar pernyataan yang demikian, sekelompok kaum Khawarij tidak mempercayainya. Mereka tidak percaya, apa benar Ali bin Abi Thalib cukup pandai sehingga ia mendapat julukan "gerbang ilmu" dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Berkumpullah sepuluh orang dari kaum Khawarij. Kemudian mereka bermusyawarah untuk menguji kebenaran pernyataan Rasulullah tersebut. Seorang di antara mereka berkata, "Mari sekarang kita tanyakan pada Ali tentang suatu masalah saja. Bagaimana jawaban Ali tentang masalah itu. Kita bisa menilai seberapa jauh kepandaiannya. Bagaimana? Apakah kalian setuju?" "Setuju!" jawab mereka serentak. "Tetapi sebaiknya kita bertanya secara bergiliran saja", saran yang lain. "Dengan begitu kita dapat mencari kelemahan Ali. Namun bila jawaban Ali nanti selalu berbeda-beda, barulah kita percaya bahwa memang Ali adalah orang yang cerdas."
"Baik juga saranmu itu. Mari kita laksanakan!" sahut yang lainnya. Hari yang telah ditentukan telah tiba. Orang pertama datang menemui Ali lantas bertanya, "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?" "Tentu saja lebih utama ilmu," jawab Ali tegas.
"Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir'aun, Namrud dan lain-lainnya," Ali menerangkan. Setelah mendengan jawaban Ali

yang demikian, orang itu kemudian mohon diri. Tak lama kemudian datang orang kedua dan bertanya kepada Ali dengan pertanyaan yang sama. "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?" "Lebih utama ilmu dibanding harta," jawab Ali. "Mengapa?" "Karena ilmu akan menjaga dirimu, sementara harta malah sebaliknya, engkau harus menjaganya. "Orang kedua itu pun pergi setelah mendengar jawaban Ali seperti itu. Orang ketiga pun datang menyusul dan bertanya seperti orang sebelumnya. "Bagaimana pendapat tuan bila ilmu dibandingkan dengan harta?" Ali kemudian menjawab bahwa, "Harta lebih rendah dibandingkan dengan ilmu?" "Mengapa bisa demikian tuan?" tanya orang itu penasaran. "Sebab orang yang mempunyai banyak harta akan mempunyai banyak musuh. Sedangkan orang yang kaya ilmu akan banyak orang yang menyayanginya dan hormat kepadanya." Setelah orang itu pergi, tak lama kemudian orang keempat pun datang dan menanyakan permasalahan yang sama. Setelah mendengar pertanyaan yang diajukan oleh orang itu, Ali pun kemudian menjawab, "Ya, jelas-jelas lebih utama ilmu." "Apa yang menyebabkan demikian?" tanya orang itu mendesak.
"Karena bila engkau pergunakan harta," jawab Ali, "jelas-jelas harta akan semakin berkurang. Namun bila ilmu yang engkau pergunakan, maka akan semakin bertambah banyak."
Orang kelima kemudian datang setelah kepergian orang keempat dari hadapan Ali. Ketika menjawab pertanyaan orang ini, Ali pun menerangkan, "Jika pemilik harta ada yang menyebutnya pelit, sedangkan pemilik ilmu akan dihargai dan disegani." Orang keenam lalu menjumpai Ali dengan pertanyaan yang sama pula. Namun tetap saja Ali mengemukakan alasan yang berbeda. Jawaban Ali tersebut ialah, "Harta akan selalu dijaga dari kejahatan, sedangkan ilmu tidak usah dijaga dari kejahatan, lagi pula ilmu akan menjagamu." Dengan pertanyaan yang sama orang ketujuh datang kepada Ali. Pertanyaan itu kemudian dijawab Ali, "Pemilik ilmu akan diberi syafa'at oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala di hari kiamat nanti, sementara pemilik harta akan dihisab oleh Allah kelak."
Kemudian kesepuluh orang itu berkumpul lagi. Mereka yang sudah bertanya kepada Ali mengutarakan jawaban yang diberikan Ali. Mereka tak menduga setelah mendengar setiap jawaban, ternyata alasan yang diberikan Ali selalu berbeda. Sekarang tinggal tiga orang yang belum melaksanakan tugasnya. Mereka yakin bahwa tiga orang itu akan bisa mencari celah kelemahan Ali. Sebab ketiga orang itu dianggap yang paling pandai di antara mereka.
Orang kedelapan menghadap Ali lantas bertanya, "Antara ilmu dan harta, manakah yang lebih utama wahai Ali?" "Tentunya lebih utama dan lebih penting ilmu," jawab Ali.
"Kenapa begitu?" tanyanya lagi. "Dalam waktu yang lama," kata Ali menerangkan, "harta akan habis, sedangkan ilmu malah sebaliknya, ilmu akan abadi." Orang kesembilan datang dengan pertanyaan tersebut. "Seseorang yang banyak harta", jawab Ali pada orang ini, "akan dijunjung tinggi hanya karena hartanya. Sedangkan orang yang kaya ilmu dianggap intelektual."
Sampailah giliran orang terakhir. Ia pun bertanya pada Ali hal yang sama. Ali menjawab, "Harta akan membuatmu tidak tenang dengan kata lain akan mengeraskan hatimu. Tetapi, ilmu sebaliknya, akan menyinari hatimu hingga hatimu akan menjadi terang dan tentram karenanya."
Ali pun kemudian menyadari bahwa dirinya telah diuji oleh orang-orang itu. Sehingga dia berkata, "Andaikata engkau datangkan semua orang untuk bertanya, insya Allah akan aku jawab dengan jawaban yang berbeda-beda pula, selagi aku masih hidup."
Kesepuluh orang itu akhirnya menyerah. Mereka percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas adalah benar adanya. Dan ali memang pantas mendapat julukan "gerbang ilmu". Sedang mengenai diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sudah tidak perlu diragukan lagi.

(THE SOURCE: REPUBLIKA ONLINE)

Be Yourself

Saya mendapat cerita ini dari seseorang yang telah membantu membimbing saya kearah yang lebih baik. . . tapi isi ceritanya dengan beberapa penambahan dari saya y…hehe:)

Cerita ini bisa dibilang dongeng, tentang binatang- binatang,,mmmm fabel ya namanya…begini ceritanya…..

Di sebuah hutan rimba, banyak sekali terdapat binatang, ada tupai yang loncat kesana kemari dari satu dahan pohon ke dahan yang lain, ada sapi yang mengunyah rumput, monyet yang bergelantungan, ikan- ikan yang berenang di danau dan masih banyak lagi, pokoknya kesibukan para penghuni hutan. Tapi dibalik pohon- pohon yang rimbun ada seekor bayi singa yang baru lahir terpisah dari induknya. Ia menangis, dan terus menangis tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, ia hanya ingin ada yang mengasihinya…

Seekor ibu kambing tiba- tiba melintas, mendengar tangisan bayi singa, ibu kambing merasa kasihan. Diangkatnya bayi singa itu dari tanah dan dinaikkannya di punggungnya kemudian dibawa pulang.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, sang bayi singa kini telah remaja. Bersama anak- anak kambing yang lain ia bermain, mengunyah rumput, dan berkejar-kejaran…

Di suatu pagi yang cerah, terdengar keributan,,binatang- binatang yang lain berlarian, mencari tempat yang aman untuk berlindung, menghindari sang pemangsa…

Tiba- tiba dari kejauhan muncullah sesosok binatang besar, dengan taring yang mengancam, kuku tajam yang siap merobek mangsanya. AAUUUMMMM….!!!!.binatang itu mengaum..Seekor singa telah memecah kedamaian di pagi itu.

Tak terkecuali ibu kambing dan anak- anaknya,, mereka pun ikut berlari agar tak menjadi sarapan pagi bagi si raja singa, sang raja rimba…Bayi singa yang telah remaja pun tak urung ikut berlari, mencari tempat persembunyian…

“Ayo! kau lawan singa itu!!”tiba- tiba ibu kambing menyentaknya.

“Aku takuut. . . .”singa remaja menggigil ketakutan..

Singa sang Raja Rimba kemudian menyadari ada singa remaja di situ. Ia sempat tertegun. “Mengapa di sini juga ada singa??”pikir si raja rimba..

“Majulah lawan singa itu, sebelum kami semua dimakannya…”ibu kambing terus mendesaknya..

“Akuu…akuu…”perlahan dengan gemetar, singa remaja akhirnya mencoba menghadapi raja singa,,,

Tiba- tiba…!!

“Mbekk…..Mbekk…Mbekkk”..keluarlah suara itu dari singa remaja, maksud hati ingin mengusir raja singa dengan auman yang seharusnya dimiliki seekor singa, tapi yang terdengar adalah mmbikan ciri khas seekor kambing..

“Ha…ha…ha…” terdengar tawa raja singa menggelegar,, “kemari kau singa kecil,,,”raja singa mendekati singa remaja..”ikut aku..”dan digiringnya singa remaja ke sebuah danau.

“Lihatlah ke dalam danau itu, lihat dan perhatikan wajahmu..”sang raja singa menarik si singa remaja mendekati danau dan singa remaja melihat pantulan wajahnya.

“Kau lihat? Perhatikanlah wajah kita berdua begitu mirip, tidakkah kau merasa kau itu sama seperti aku??”tanya raja singa. Singa remaja memperhatikan bayangan pantulan wajahnya dan wajah si raja singa. Memang mirip, matanya, hidung, giginya, bulu-bulunya. Dan mereka tidak mempunyai tanduk seperti ibu kambing dan anak-anaknya..

“Benar..kita sama”jawab si singa remaja. “Kalau begitu mengaumlah, jangan kau mengembik seperti anak kambing!”.”Mbekk..Mmbekkk”masih terdengar mbikan dari mulut singa remaja….”Mbek…mbekk….a.a.a..aaa”singa remaja terus berusaha,,,,,,,,,,”AAAAAAAUUUMMMMMMM!!!””terdengar auman yang tak kalah menggelegarnya, singa remaja kini bisa mengaum,, sebab ia bukan seekor kambing tapi ia seekor singa.

–The end–

Kira- kira apa hikmah yang bisa kita ambil dari cerita di atas??

Teman, kadangkala kita tidak tahu apa harapan kita, or cita- cita kita, kenapa?karena kita mungkin tidak menemukan dan membangunkan raksasa yang sedang tertidur dalam diri kita..yaitu POTENSI!!

Ingat, POTENSI yang begitu besar, mungkin sebenarnya ada dalam diri kita. Seperti halnya gunung es. Tau gunung es kan??iiiaaa gunung es yang kalo kita kasih sirup di atasnya pasti seger banget, trus di bagiin ke orang-orang, enak tuh, ih ngaco jangan di coba loh. Gunung es biasanya terapung di atas laut. Kalo gak percaya, coba aja mampir ke kutub utara tuk liatin beneran ngapung gak?

Yang kita lihat gunung es itu tampak kecil. Tapi tahukah, bahwa sebenarnya di bawah air, ada bongkahan bagian bawah gunung es yang buessaaaarrrrrrrrr..banget, gak keliatan karena tertutup air laut. Jadi yang nongol di atasnya cuma puncaknya ajahh..

Seperti kisah di atas, mungkin selama ini kita hidup seperti si bayi singa, hidup biasa- biasa aja, mengikuti lingkungan sekitar. Tanpa pernah tau bahwa kita adalah singa ganas yang punya kelebihan dibanding kambing, dan ditakuti.

Mungkin, kita punya potensi menulis, melukis, membuat kerajinan, bikin puisi dan masih banyak lagi, dari yang kita anggap sekedar hobi kayak maen catur, maen bulu tangkis ternyata bisa mengantar ke jejak olimpiade..Aaaminnn,,,siapa tau kan??so, jangan berputus asa kalau kita ternyata gak bisa jadi dokter, polisi, atau presiden sekalipun..tapi yakinlah, Alloh gak nyiptain kita sia- sia, kita punya POTENSI yang kan muncul bila digali terus. Oks, friends selama yang kita hobiin itu baik, lanjutkanlah, lebih cepat lebih baik..pro POTENSI ..hehe :P

Senin, 07 September 2009

DIMANAKAH KU BERSEMBUNYI

Dahulu Kala di Persia hidup seorang Raja yang tergila-gila membangun sebuah istana megah..Dia membelanjakan hampir seluruh perbendaharaan kerajaan untuk itu. hasilnya memang menakjubkan. Dia menghiasi luar istana dengan menara dengan kubah-kubah emas. di dalam, dia mengisinya dengan perabotan dan permadani yang serasa diimpor lansung dari surga.

" Saya mau tahu Kata raja kepada Hadirin yang diundang kepesta pembukaan pesta pembukaan Istana" bagaimana pendapat kalian tentang pesta ini? adakah sesuatu yang terlupakan , yang dapat merusak atau mengurangi keindahan-Nya?

Semua-Nya memuji, kecuali seorang Arif." ada satu celah kecil yang menurut pendapat Hamba merupakan cacat utama istana megah ini tuanku, andaikan tidak ada cacat itu surga sendiripun akan memberikan hadiah-hadiah-NYA kepada tuanku dari dunia gaib.

raja seperti kena tampar tiga kali dan tidak diberi kesempatan melawan. " Aku tidak melihat cacat yang kau sebut" katanya Meradang. "' Kau bodoh, hanya cari perhatian!"

" Bukan begitu maksudku, Paduka," kata Sang arif. "Celah yang kusebutkan itu ialah celah yang akan dilalui iZrail, malaikat pencabut nyawa, bila dia datang nanti. semoga Paduka bisa menutup celah itu. sebab jika tidak, apakah gunanya istana, mahkota, dan singgasana Tuan yang megah ini?"


RENUNGAN: hakikat manusia tidak ada satu pun manusia yang terbebas dari keterbatasan. kalau dia tidak kena kantuk atau sakit, ujung-ujungNya dia berkeringat, badan-Nya bau menjadi tua, lalu akhir-Nya mati.tak pula manusia, tak peduli itu Firaun atau Hitler, bisa bertahan dari sapuan banjir,badai, gempa. Ini fakta penciptaan yang disampaikan gamblang lewat baris doa ini. Apa saja dan siapa saja yang kita anggap digdaya pasti binasa. lebih dari itu, sifat digdaya yang kita anggap ada pada selain Allah sebenarnya hanya pinjaman dan percikan kecil dari kedigdayaan Tuhan yang melampaui segala sesuatu

The source of the Book: menyerap energi ketuhanan By Muza khasim & Alfian Hamzah

Selasa, 30 Juni 2009

DI SUATU JENDELA RUMAH SAKIT


Dua orang pria keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat disebuah kamar Rumah sakit. Seorang diantaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk ditempat tidur selama 1 jam disetiap sore.untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya, kebetulan tempat tidurnya berada tepat disisi jendela satu2nya yang ada di kamar itu. Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus disebelah tempat tidur pria itu

Setiap hari mereka selalu saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah,pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.

Setiap sore ketika pria yang tempat tidurnya berada didekat jendela diperbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat diluar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah pria kedua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warni indah yang ada diluar sana.

Diluar jendela tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang cantik. Sedangkan anak2 bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan ditengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. jauh diatas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah.

Pria pertama itu menceritakan keadaan diluar jendela dengan detil sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pada pemandangan itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya dirumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat dan percaya dirinya bertambah.

Keesokan harinya diwaktu sore, pria yang duduk didekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meski pria yang kedua tidak dapat mendengar suatu periode itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yg menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah. Begitulah seterusnya dari hari kehari. Dan satu minggu pun berlalu.

Suatu pagi perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring didekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta kepada perawat agar ia bisa dipindahkan ketempat tidur didekat jendela itu. Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya.ketika semua selesai , ia meninggalkan pria tadi seorang diri di dalam kamar.

Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar itu melalui jendela itu betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya kejendela disamping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya ternyata, jendela itu menghadap kesebuah TEMBOK KOSONG!!!

Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah dibalik jendela itu. Pria itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun.

Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup, kata perawat itu .

THE END DECH...

Senin, 29 Juni 2009

Anda Yakin juara???

SANG JUARA

Suatu ketika ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu karena ini adalah sebuah babak final. Hanya tersedia 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak yang bernama Mark. Mobilx tak istimewa namun ia termasuk anak yang termasuk dalam babak final dibanding semua lawannya, mobil Marklah yang Paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu dengan mobil lainnya.

Mobil itu memang tidak begitu Menarik. Dengan kayu sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya, tapi Mark Bangga dengan itu semua, sebab mobil itu buatan tanganx sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang2. Disetiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil dengan setiap pembalap kecilx. Lintasan itu berbentuk dengan lingkaran 4 jalur terpisah diantarax.

Namun mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit sebelum lomba dimulai. Matanya terpejam dengan tangan yang bertangkup memanjatkan doa..lalu semenit kemudian ia mulai berkata aku siap

Dor, tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilx kuat2.semua mobil itupun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing2..ayo cepat..ayo cepat, maju..maju begitu teriak mereka. Ahha sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan Marklah pemenangx. Semuanya senang, begitu juga Mark, Ia berucap dan berkomat-kamit dalam hati “Terima Kasih”

Saat pembagian piala tiba mark maju kedepan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya” hai Jagoan kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan supaya menang”. Mark kemudian berkata dia sedang tidak berdoa supaya menang.

Ia lalu melanjutkan, sepertinya tidak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain, tetapi aku hanya berdoa pada Tuhan supaya aku tidak menangis jika aku kalah, setelah beberapa saat terdiam terdengarlah gemuruh semua hadirin terdiam dan tepuk tangan

RENUNGAN

Dari cerita diatas alangkah enaknya klo qt belajar dari mark seorang anak kecil, dia tidak bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian, mark tidak memohon tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tidak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya, namun Mark bermohon pada Tuhan agar diberikan kemuliaan dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga. Mungkin telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita . Terlalu sering juga kita memohon kepada Tuhan untuk menjadikan kita Nomer satu, menjadi pemenang, menjadi yang terbaik,menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa kepada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada didepan mata. Padahal bukankah yang kita butuhkan adalah bimbingan dan tuntunan dan panduan-Nya. Kita sering terlalu lemah untuk percaaya bahwa kita kuat,kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini.tidak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin tuhan memberikan kita ujian bukan untuk membuat kita lemah,cengeng, dan mudah menyerah sesungguhnya Tuhan sedang menguji setiap hambanya agar ditingkatkan derajat ketakwaannya.

QUANTUM-IKHLASKU

AKU MEMUTUSKAN UNTUK SELALU MEMILIKI KEKUATAN DAN KEYAKINAN DIRI. KARENA AKU PERCAYA, AKU YAKIN, AKU BERIMAN, BAHWA CAHAYA KEKUATAN TUHAN YG MENCIPTAKAN SELURUH ISI ALAM SEMESTA SELALU MENGALIR DALAM SETIAP KEPUTUSANKU,PIKIRANKU, SERTA TINDAKANKU SEBAB AKU YAKIN BAHWA SEBENARNYA AKU HANYALAH ALAT BAGI TUHAN UNTUK MEWUJUDKAN RENCANA-RENCANANYA

TAK SENILAI SAYAP NYAMUK

Tak Senilai Sayap Nyamuk


dakwatuna.com - “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakanmu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakanmu dalam (mentaati) Allah.” (QS. Luqman: 33)

Dunia memang indah. Warna-warni alamnya teramat sulit dilukiskan dengan kata-kata. Hiasan-hiasannya bagaikan magnet yang mampu menarik siapa pun di sekelilingnya. Pesonanya bisa memukau mata manusia mana pun yang menatapnya dengan penuh harap. Mereka pun berkhayal, andai dunia tak pernah berpisah.

Kenikmatan yang berlimpah kadang bisa lebih berbahaya dari musibah terburuk apa pun. Seorang hamba Allah mungkin bisa bertahan dengan siksaan dan penjara. Tapi, belum tentu ia mulus dengan cobaan banyaknya harta. Berbahagialah hamba Allah yang kaya dan senantiasa bersyukur.

Jangan pernah bergeser dari niat yang ikhlas

Ikhlas adalah dasar diterima atau tidaknya sebuah amal. Apalah arti sebuah prestasi jika Allah swt. tidak menganggapnya sebagai sebuah bakti. Mungkin, manusia bisa tertipu dengan hiasan-hiasan amal yang ditampilkan. Tapi, Allah Maha Tahu apa yang tersembunyi di balik hati seorang hamba. Sekecil apa pun.

Keanggunan hiasan dunia kadang membuat hati manusia tertipu, terpedaya. Buat siapa pun, termasuk hamba Allah yang giat beramal. Bahkan, seorang sahabat Rasul sekali pun. Kisah kurang amanahnya pasukan pemanah pimpinan Abu Ubaidah pada Perang Uhud memberikan pelajaran tersendiri. Mereka siap menempuh bahaya seganas apa pun. Tapi, tak sesiap itu ketika menatap lambaian ghanimah. Kenikmatan dunia memperdaya mereka, merontokkan komitmen mereka terhadap perintah Rasul: “Apa pun yang terjadi, kalian harus tetap di bukit ini!”

Tidak heran, jika Allah swt. mengajarkan Thalut untuk menguji kesetiaan pasukannya dengan sungai. Buat kondisi jazirah Arab yang panas, sungai merupakan perwujudan standar dari bentuk kenikmatan dunia: menggiurkan di saat dahaga, menyejukkan di saat panas terik membakar. Kalau pada takaran standar saja mereka rontok, apatah lagi dengan kenikmatan yang lebih besar. Dan peperangan yang akan mereka hadapi bukan sekadar menumbangkan Jalut, tapi mengendalikan diri dari hamparan kenikmatan yang dimiliki Jalut. Mampukah?

Amru bin Ash r.a. di saat menghadapi akhir hayatnya pun menyadari. Betapa ia yang pernah berjuang bersama Rasulullah saw., menghunus pedang untuk membantai musuh-musuh Islam dengan pengorbanan yang tidak kecil, pun akhirnya bisa terpedaya dengan nikmatnya kekuasaan. Sebuah bagian dari kenikmatan dunia yang belum seberapa.

Tidak ada yang mampu mengawasi jati diri seorang hamba kecuali Allah dan dirinya sendiri. Dirinyalah yang tahu, apakah niatnya masih lurus. Atau, sudah bergeser. Dan kelak, ia akan menuai amal yang pernah ia tanam. Bagus atau buruk.

Biasakan untuk senantiasa memberi, bukan sebaliknya

Manusia memang tak bisa lepas dari tarikan dunia. Karena, sebagian dirinya berasal dari unsur tanah yang berarti bagian dari wujud dunia. Ia butuh makan, minum, tempat tinggal, pasangan, keluarga, status sosial, dan sebagainya. Tinggal, bagaimana ia mengelola keakrabannya dengan dunia.

Orang yang akrab dengan sesuatu biasanya akan cinta. Dan cinta menjadikan seseorang sulit dipisahkan dengan yang dicintai. Karena itu, sebelum seseorang terlanjur mencintai dunia, ia harus melatih diri untuk secara rutin berpisah. Biar kecil, tapi rutin.

Di situlah mungkin, di antara hikmah Allah swt. mewajibkan infak buat orang-orang yang beriman. Tak ada keuntungan sedikit pun buat Allah. Karena, tak satu pun benda di alam ini melainkan dari-Nya. Semua manfaat itu akan kembali kepada manusia itu sendiri.

Sekilas, memberi terasa merugikan. Karena, ada bagian kepemilikannya yang dikorbankan buat orang lain. Tapi, justru di situlah seorang yang mudah memberi akan merasakan manfaat. Selain menyeimbangkan keakrabannya dengan dunia, memberi adalah bentuk investasi lain buat kepemilikan yang lebih berharga dari materi yang ia korbankan. Selain balasan dari Allah, ia akan mendapatkan nilai sosial lebih. Harga sosialnya akan semakin mahal, tanpa ia sadari.

Allah swt. berfirman, “Ada pun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5-7)

Turunan dari memberi begitu banyak. Rasulullah saw. sering menganjurkan kita untuk bersedekah, memberi hadiah, menolong orang yang kesulitan dana, mengurus anak yatim, dan lain-lain. Karena itu, bersikaplah untuk senantiasa siap memberi buat orang lain. Bukan, berharap-harap apa yang mesti orang lain berikan kepada kita.

Jadilah seperti seorang penjual, bukan pembeli

Perbedaan mendasar antara seorang penjual dengan pembeli adalah sikap mental. Seorang penjual punya sikap pelayanan. Dan pembeli punya sikap memilih-milih, tidak merasa perlu. Apa pun yang dituntut pembeli, penjual akan menyesuaikan diri. Bahkan, ia harus siap dicela, dimarahi pembeli, tanpa memperlihatkan reaksi ketidaksukaan. Apalagi perlawanan. Dan, manajemen moderen membenarkan itu.

Begitu pun dalam beramal. Kehidupan seorang hamba Allah di dunia ini tak lain adalah seorang penjual. Dan Allahlah Si Pembeli. Pembeli bisa menentukan kriteria apa saja atas barang yang dibeli. Dan penjual wajib memenuhi, jika dagangannya mau terjual.

Allah swt. berfirman dalam surah At-Taubah ayat 111, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Alquran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka, bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

Tak ada satu penjual pun yang santai-santai saja menyambut tawaran harga tinggi dari seorang pembeli. Dan harga apalagi yang lebih tinggi dari surga yang penuh kenikmatan. Dan satu lagi. Tak ada penjual yang sedemikian cintanya dengan dagangannya sehingga ia tak akan pernah menjual. Teramat bodoh seorang penjual yang bersikap, “Biarlah saya tak untung, yang penting barang dagangan yang saya cintai tak terjual!” Saat itu, ia bukan lagi seorang penjual. Tapi, penikmat.

Seorang hamba Allah yang cerdas tak akan terpedaya dengan dunia. Seindah apa pun, ia tampil. Segemerlap apa pun dunia bersolek. Karena dalam pandangan Allah, dunia tak senilai saya nyamuk. Rasulullah saw. bersabda, “Andaikan dunia itu senilai dengan sayap nyamuk di sisi Allah, maka Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walaupun seteguk air dari dunia.” (HR. Tirmidzi)